Technorati
Author: Miguel Gibson
Published: January 22, 2012 at 6:13 am
The New York Times published a list of 45 destinations worldwide as recommending places to visit in 2012, and at No. 10 is Havana, Cuba. To make the list the prestigious publication valued in particular cultural offerings and tourist services.
The Cuban capital is once more available to Americans. All that stands between the Americans and the sensual streets of Havana are the Straits of Florida, as the Obama administration has expanded the range of travel allowed, quotes the journal.
A growing list of organizations is licensed to operate trips to Cuba, including National Geographic Expeditions, Austin-Lehman and the Center for Cuban Studies. “There are also more flights to Cuba from U.S. cities: Fort Lauderdale and Tampa recently joined New York, Miami and Los Angeles in the list, and Chicago will be added this year."
"The tours include meetings with art historians, and organic farmers among others. Conveniently, new restaurants and cafes, some in beautiful colonial houses, have resurfaced in 2011, "adds the newspaper. Havana is also preparing for its 11th Biennial from May 11 to June 11, attracting more than 100 Cuban and foreign artists", adds the publication.
The journalists from the publication chose a total of 45 emerging tourist destinations in 2012. The top ten are: Panama, Helsinki, Finland, Myanmar, London, Oakland, California, Tokyo, Tanzania, Chilean Patagonia, Lhasa, Tibet, and Havana, Cuba.
The rest of the list is completed by: Moscow, Glasgow, Puebla (Mexico), San Diego (California), Halong Bay (Vietnam), Florence (Italy), St Vincent (Caribbean), Moganshan (China), Birgmingham (UK), Space (yes, oddly enough, but true), Kerala (India), Paraty (Brazil), Koh Rong (Cambodia), Vienna (Austria), Chattanooga (Tennessee), Dakhla (Morocco), Maldives, Malacca (Malaysia), The Algave (Portugal), Tahoe (California), Wales, Antarctica, Uganda, Ukraine, Samana (Dominican Republic), Dubrovnik (Croatia), Chiloe (Chile), Jordan, Crans-Montana (Switzerland), Montpellier (France), Nosara (Costa Rica), South Korea, Lodz (Poland), Dalarna (Sweden) and Portovenere (Italy).
Read more: http://technorati.com/lifestyle/travel/article/the-new-york-times-recommends-cuba/#ixzz1kE2yGipG
------
JG: Watch the Miami Nuts say that the NYT is really the official organ of CPUSA, (Communist Party, USA).
You guys should move to Honduras!
Sunday, January 22, 2012
Saturday, January 21, 2012
Narkoba ?? Noo!!
Narkoba (singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997). Yang termasuk jenis Narkotika adalah :
Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.
Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain:
- Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandarax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Alis Diethylamide), dsb.
- Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistim syaraf pusat, seperti:
- Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether, dsb.
Jenis Narkoba Menurut Efeknya :
Dari efeknya, narkoba bisa dibedakan menjadi tiga:
- Depresan, yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, dan berbagai turunannya seperti morphin dan heroin. Contoh yang populer sekarang adalah Putaw.
- Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis stimulan: Kafein, Kokain, Amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan Ekstasi.
- Halusinogen, efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.
Penyalahgunaan Narkoba
Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan penefitian. Tetapi karena berbagai alasan - mulai dari keinginan untuk coba-coba, ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dll. - maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan.
Tingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut:
- coba-coba
- senang-senang
- menggunakan pada saat atau keadaan tertentu
- penyalahgunaan
- ketergantungan
Dampak penyalahgunaan Narkoba
Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.
Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
Dampak Fisik:
- Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi
- Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah
- Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim
- Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru
- Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur
- Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual
- Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)
- Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya
- Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian
Dampak Psikis:
- Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
- Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
- Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
- Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
- Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri
Dampak Sosial:
- Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
- Merepotkan dan menjadi beban keluarga
- Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram
Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejata fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dll.
Bahaya Narkoba Berdasarkan Jenisnya :
Opioid :
- depresi berat
- apatis
- rasa lelah berlebihan
- malas bergerak
- banyak tidur
- gugup
- gelisah
- selalu merasa curiga
- denyut jantung bertambah cepat
- rasa gembira berlebihan
- banyak bicara namun cadel
- rasa harga diri meningkat
- kejang-kejang
- pupil mata mengecil
- tekanan darah meningkat
- berkeringat dingin
- mual hingga muntah
- luka pada sekat rongga hidung
- kehilangan nafsu makan
- turunnya berat badan
Kokain :
- denyut jantung bertambah cepat
- gelisah
- rasa gembira berlebihan
- rasa harga diri meningkat
- banyak bicara
- kejang-kejang
- pupil mata melebar
- berkeringat dingin
- mual hingga muntah
- mudah berkelahi
- pendarahan pada otak
- penyumbatan pembuluh darah
- pergerakan mata tidak terkendali
- kekakuan otot leher
Ganja :
- mata sembab
- kantung mata terlihat bengkak, merah, dan berair
- sering melamun
- pendengaran terganggu
- selalu tertawa
- terkadang cepat marah
- tidak bergairah
- gelisah
- dehidrasi
- tulang gigi keropos
- liver
- saraf otak dan saraf mata rusak
- skizofrenia
Ectasy :
- enerjik tapi matanya sayu dan wajahnya pucat,
- berkeringat
- sulit tidur
- kerusakan saraf otak
- dehidrasi
- gangguan liver
- tulang dan gigi keropos
- tidak nafsu makan
- saraf mata rusak
Shabu-shabu :
- enerjik
- paranoid
- sulit tidur
- sulit berfikir
- kerusakan saraf otak, terutama saraf pengendali pernafasan hingga merasa sesak nafas
- banyak bicara
- denyut jantung bertambah cepat
- pendarahan otak
- shock pada pembuluh darah jantung yang akan berujung pada kematian.
Benzodiazepin :
- berjalan sempoyongan
- wajah kemerahan
- banyak bicara tapi cadel
- mudah marah
- konsentrasi terganggu
- kerusakan organ-organ tubuh terutama otak
Perilaku Pemakai Untuk Mendapatkan Narkoba
- Melakukan berbagai cara untuk mendapatkan narkoba secara terus-menerus
- Pemakai yang sudah berada pada tahap kecanduan akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan narkoba kembali. Misalnya, pelajar bisa menggunakan uang sekolahnya untuk membeli narkoba jika sudah tidak mempunyai persediaan uang.
- Bahkan, mereka bisa mencuri uang dari orangtua, teman, atau tetangga. Hal tersebut tentu akan mengganggu stabilitas sosial.
- Dengan kondisi tubuh yang rusak, mustahil bagi pemakai untuk belajar, bekerja, berkarya, atau melakukan hal-hal positif lainnya.
Bahaya Bagi Remaja
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja akan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa. Karena itulah bila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkan hancurlah masa depannya.
Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja.
Masalah menjadi lebih gawat lagi bila karena penggunaan narkoba, para remaja tertular dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja. Hal ini telah terbukti dari pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsa ini akan kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkoba dan merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber daya manusia bagi bangsa.
Apa Yang Masih Bisa Dilakukan?
Banyak yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja menyalahgunakan narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus penyalahgunaan narkoba. Ada tiga tingkat intervensi, yaitu
- Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga, dll. Instansi pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.
- Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal (initialintake)antara 1 - 3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1 - 3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.
Tertier, yaitu upaya untuk merehabilitasi merekayang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri atas Fase stabilisasi, antara 3-12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat, dan Fase sosialiasi dalam masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif, dll.
"MARI KITA JAUHI NARKOBA"
UNTUK MASA DEPAN KITA BERSAMA
SMS Gratis Melalui Internet
Bagi anda yang tidak punya pulsa atau kehabisan pulsa untuk SMS. Jangan frustasi dulu kali ini saya akan menyediakan SMS gratis bagi anda lewat internet. Caranya gampang :
- Masukkan Nomor HP
- Lalu isi SMS maksimal 160 karakter
- Lalu kirim ke nomor Tujuan
Mudah Bukan
Semoga Bermanfaat
The recent statements of Hillary Clinton and Barack Obama are an act of colossal cynicism, says Josefina Vidal at Cuba's MINREX
To read her statement, in Spanish, click here.
The Miami Herald Continues to Spread the Lies of Hillary Clinton
It was to be expected. The Miami Herald has always been a mercenary newspaper, only worthy of being used as the recipient of the urination of dogs and cats. The Miami Herald has always been a consistent supporter of the remnants of General Fulgencio Batista in Cuba. The Miami Herald has received funds from the United States government as payment for the lies that they publish about Cuba on a daily basis.
Hillary Clinton wants to convert a common criminal in Cuba into a political "dissident." And she follows the orders that she gets from the Chicago gangster that currently occupies the White House.
For the purpose of keeping one more record of all the lies of the Miami Herald, I am going to publish below the latest diatribe of Hillary Clinton and a gusano ass-kisser by the name of Juan Tamayo.
[Beginning of the garbage and lies]
By Juan O. Tamayo
jtamayo@ElNuevoHerald.com
[URL: http://www.miamiherald.com/2012/01/20/2599352/us-reacts-to-cuban-dissidents.html#comment-417140176]
The U.S. State Department Friday deplored the death of Cuban dissident Wilman Villár, “a young and courageous defender of human rights,” and said it “highlights the continuing problem of political repression, and political prisoners, in Cuba.”
Villár’s death Thursday also “underscores the urgent need for greater international scrutiny of Cuba’s human rights record and international monitoring of Cuba’s prisons and prisoner population,” said department spokeswoman Neda A. Brown.
Cuba does not allow the International Red Cross to inspect its prisons.
Brown added that the Villár case “underscores the importance of the president’s (Barack Obama) continued efforts to support the desire of the Cuban people to freely determine their own future.”
“We will continue to support, in the words of the president, ‘pockets of freedom’ in Cuba through Cuban American family visits and remittances, purposeful travel, and humanitarian assistance to dissidents and their families,” she added.
[End of the garbage and lies]
Hillary Clinton wants to convert a common criminal in Cuba into a political "dissident." And she follows the orders that she gets from the Chicago gangster that currently occupies the White House.
For the purpose of keeping one more record of all the lies of the Miami Herald, I am going to publish below the latest diatribe of Hillary Clinton and a gusano ass-kisser by the name of Juan Tamayo.
[Beginning of the garbage and lies]
By Juan O. Tamayo
jtamayo@ElNuevoHerald.com
[URL: http://www.miamiherald.com/2012/01/20/2599352/us-reacts-to-cuban-dissidents.html#comment-417140176]
The U.S. State Department Friday deplored the death of Cuban dissident Wilman Villár, “a young and courageous defender of human rights,” and said it “highlights the continuing problem of political repression, and political prisoners, in Cuba.”
Villár’s death Thursday also “underscores the urgent need for greater international scrutiny of Cuba’s human rights record and international monitoring of Cuba’s prisons and prisoner population,” said department spokeswoman Neda A. Brown.
Cuba does not allow the International Red Cross to inspect its prisons.
Brown added that the Villár case “underscores the importance of the president’s (Barack Obama) continued efforts to support the desire of the Cuban people to freely determine their own future.”
“We will continue to support, in the words of the president, ‘pockets of freedom’ in Cuba through Cuban American family visits and remittances, purposeful travel, and humanitarian assistance to dissidents and their families,” she added.
[End of the garbage and lies]
Califican de inaceptables declaraciones de España sobre Cuba
Escrito por Luis Enrique Gonzalez
21 de enero de 2012, 00:03- La Habana, 21 ene (PL) Cuba calificó de inaceptables las declaraciones del gobierno español que no tiene la más mínima autoridad moral para enjuiciar a la nación caribeña.
Cuba condena manipulación en caso de recluso fallecido
Diversos medios de prensa se han hecho eco de declaraciones formuladas por la Vicepresidente del gobierno español del Partido Popular Soraya Sáenz y del Comunicado del Ministerio de Asuntos Exteriores y Cooperación de España, en relación con la muerte del recluso común cubano Wilman Villar Mendoza.
El recluso había sido sancionado por golpear y lesionar en público a su esposa y agredir luego a los agentes de policía que acudieron ante la denuncia de la madre de esta.
Por su parte, la Alta Representante de la Unión Europea para la Política Exterior y de Seguridad Común Catherine Ashton ha dicho que este caso plantea dudas sobre el sistema judicial y penitenciario cubanos.
Consultado por Prensa Latina un funcionario de la cancillería cubana declaró que "es insólito que teniendo el gobierno de España la mitad de sus jóvenes en paro y una alta tasa de asesinatos y violencia contra las mujeres, se gaste dinero en una campaña para presentar una brutal agresión a la esposa como disidencia política".
Asimismo, manifestó además el "enérgico rechazo a estas inaceptables declaraciones, realizadas sin siquiera averiguar o esperar a conocer qué ocurrió realmente".
"Ni al gobierno español ni a la Unión Europea les asiste la más mínima autoridad moral para enjuiciar a Cuba", indicó.
La misma fuente aseveró que "en vez de dedicarse a estas burdas tergiversaciones de la realidad, deberían ocuparse de investigar y sancionar las numerosas muertes en detención que ocurren en sus instituciones, los frecuentes actos de brutalidad policial contra manifestantes que suceden sistemáticamente en España y otros países de la Unión Europea".
También tendrían que investigar "los crímenes y maltratos contra los inmigrantes, los vuelos secretos de la CIA con personas secuestradas y la existencia de cárceles secretas o la participación de sus oficiales en actos de tortura", enfatizó.
(Cubaminrex)
21 de enero de 2012, 00:03- La Habana, 21 ene (PL) Cuba calificó de inaceptables las declaraciones del gobierno español que no tiene la más mínima autoridad moral para enjuiciar a la nación caribeña.
Cuba condena manipulación en caso de recluso fallecido
Diversos medios de prensa se han hecho eco de declaraciones formuladas por la Vicepresidente del gobierno español del Partido Popular Soraya Sáenz y del Comunicado del Ministerio de Asuntos Exteriores y Cooperación de España, en relación con la muerte del recluso común cubano Wilman Villar Mendoza.
El recluso había sido sancionado por golpear y lesionar en público a su esposa y agredir luego a los agentes de policía que acudieron ante la denuncia de la madre de esta.
Por su parte, la Alta Representante de la Unión Europea para la Política Exterior y de Seguridad Común Catherine Ashton ha dicho que este caso plantea dudas sobre el sistema judicial y penitenciario cubanos.
Consultado por Prensa Latina un funcionario de la cancillería cubana declaró que "es insólito que teniendo el gobierno de España la mitad de sus jóvenes en paro y una alta tasa de asesinatos y violencia contra las mujeres, se gaste dinero en una campaña para presentar una brutal agresión a la esposa como disidencia política".
Asimismo, manifestó además el "enérgico rechazo a estas inaceptables declaraciones, realizadas sin siquiera averiguar o esperar a conocer qué ocurrió realmente".
"Ni al gobierno español ni a la Unión Europea les asiste la más mínima autoridad moral para enjuiciar a Cuba", indicó.
La misma fuente aseveró que "en vez de dedicarse a estas burdas tergiversaciones de la realidad, deberían ocuparse de investigar y sancionar las numerosas muertes en detención que ocurren en sus instituciones, los frecuentes actos de brutalidad policial contra manifestantes que suceden sistemáticamente en España y otros países de la Unión Europea".
También tendrían que investigar "los crímenes y maltratos contra los inmigrantes, los vuelos secretos de la CIA con personas secuestradas y la existencia de cárceles secretas o la participación de sus oficiales en actos de tortura", enfatizó.
(Cubaminrex)
Nota Informativa del Ministerio de Relaciones Exteriores de la Republica de Cuba
(Cubaminrex)
A las 18:45 horas del 19 de enero falleció en Santiago de Cuba el recluso común Wilman Villar Mendoza, en la sala de cuidados intensivos del hospital Clínico Quirúrgico “Doctor Juan Bruno Zayas”, a causa de fallo multi-orgánico secundario a un proceso respiratorio séptico severo, que llevó al paciente a un shock por sepsis.
Esta persona había sido remitida con urgencia el pasado 13 de enero del centro penitenciario “Aguadores”, al hospital provincial “Saturnino Lora”, al presentar síntomas de una neumonía severa del pulmón izquierdo, recibiendo todas las atenciones para este tipo de afecciones, aplicándosele ventilación y nutrición artificial, fluidoterapia, hemoderivados, apoyo con drogas vasoactivas y antibióticos de amplio espectro de última generación.
El hospital clínico quirúrgico “Juan Bruno Zayas”, donde falleció, es uno de los centros hospitalarios de mayor nivel en la región oriental y su sala de terapia intensiva cuenta con una gran experiencia en la atención al paciente grave.
Villar Mendoza residía en el municipio Contramaestre, provincia Santiago de Cuba y cumplía sanción de privación de libertad desde el 25 de noviembre del año 2011, por los delitos de Desacato, Atentado y Resistencia.
El hecho por el que fue sancionado se produjo durante un escándalo público en el que agredió y provocó lesiones en el rostro a su esposa, ante lo que su suegra solicitó la intervención de las autoridades y al acudir agentes de la PNR se resistió y los agredió.
Sus familiares más allegados estuvieron al tanto de todos los procedimientos que se emplearon en su atención médica, además de reconocer el esfuerzo del equipo de especialistas que lo atendió.
En relación con este hecho, desde hace varios días agencias de prensa extranjeras, en particular de Miami, vienen promoviendo una intensa campaña internacional difamatoria, en contubernio con elementos contrarrevolucionarios internos, que presentan a Villar Mendoza como un supuesto “disidente” que falleció tras realizar una huelga de hambre en prisión. Al respecto se disponen de abundantes pruebas y testimonios que demuestran que no era un “disidente” ni estaba en huelga de hambre.
Wilman Villar después de haber cometido el delito, por el cual fue procesado en libertad, comenzó a vincularse con elementos contrarrevolucionarios en Santiago de Cuba, quienes le hicieron creer que su presunta pertenencia a los grupúsculos mercenarios le permitiría evadir la acción de la justicia.
Cuba lamenta la muerte de cualquier ser humano; condena enérgicamente las burdas manipulaciones de nuestros enemigos, y sabrá desmontar esta nueva agresión con la verdad y la firmeza que caracteriza a nuestro pueblo.
A las 18:45 horas del 19 de enero falleció en Santiago de Cuba el recluso común Wilman Villar Mendoza, en la sala de cuidados intensivos del hospital Clínico Quirúrgico “Doctor Juan Bruno Zayas”, a causa de fallo multi-orgánico secundario a un proceso respiratorio séptico severo, que llevó al paciente a un shock por sepsis.
Esta persona había sido remitida con urgencia el pasado 13 de enero del centro penitenciario “Aguadores”, al hospital provincial “Saturnino Lora”, al presentar síntomas de una neumonía severa del pulmón izquierdo, recibiendo todas las atenciones para este tipo de afecciones, aplicándosele ventilación y nutrición artificial, fluidoterapia, hemoderivados, apoyo con drogas vasoactivas y antibióticos de amplio espectro de última generación.
El hospital clínico quirúrgico “Juan Bruno Zayas”, donde falleció, es uno de los centros hospitalarios de mayor nivel en la región oriental y su sala de terapia intensiva cuenta con una gran experiencia en la atención al paciente grave.
Villar Mendoza residía en el municipio Contramaestre, provincia Santiago de Cuba y cumplía sanción de privación de libertad desde el 25 de noviembre del año 2011, por los delitos de Desacato, Atentado y Resistencia.
El hecho por el que fue sancionado se produjo durante un escándalo público en el que agredió y provocó lesiones en el rostro a su esposa, ante lo que su suegra solicitó la intervención de las autoridades y al acudir agentes de la PNR se resistió y los agredió.
Sus familiares más allegados estuvieron al tanto de todos los procedimientos que se emplearon en su atención médica, además de reconocer el esfuerzo del equipo de especialistas que lo atendió.
En relación con este hecho, desde hace varios días agencias de prensa extranjeras, en particular de Miami, vienen promoviendo una intensa campaña internacional difamatoria, en contubernio con elementos contrarrevolucionarios internos, que presentan a Villar Mendoza como un supuesto “disidente” que falleció tras realizar una huelga de hambre en prisión. Al respecto se disponen de abundantes pruebas y testimonios que demuestran que no era un “disidente” ni estaba en huelga de hambre.
Wilman Villar después de haber cometido el delito, por el cual fue procesado en libertad, comenzó a vincularse con elementos contrarrevolucionarios en Santiago de Cuba, quienes le hicieron creer que su presunta pertenencia a los grupúsculos mercenarios le permitiría evadir la acción de la justicia.
Cuba lamenta la muerte de cualquier ser humano; condena enérgicamente las burdas manipulaciones de nuestros enemigos, y sabrá desmontar esta nueva agresión con la verdad y la firmeza que caracteriza a nuestro pueblo.
Subscribe to:
Posts (Atom)
